Dalam proses rekrutmen modern, kemampuan intelektual (IQ) tidak lagi menjadi satu-satunya indikator keberhasilan kandidat di tempat kerja. Seiring dengan berkembangnya pemahaman tentang faktor-faktor yang memengaruhi kinerja dan kepuasan kerja, emotional intelligence (EI) atau kecerdasan emosional mulai mendapat perhatian besar. Konsep ini merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola, dan memengaruhi emosi, baik emosi diri sendiri maupun orang lain (Goleman, 1995). Perusahaan kini menilai EI sebagai aset penting yang dapat memengaruhi kerja sama tim, kepemimpinan, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan.
Penilaian EI dalam wawancara kerja menjadi semakin umum karena metode ini memberikan gambaran mendalam tentang kemampuan interpersonal kandidat yang tidak dapat diukur hanya dengan tes kognitif. Misalnya, wawancara berbasis kompetensi (competency-based interview) sering kali menyertakan pertanyaan yang dirancang untuk mengeksplorasi pengalaman kandidat dalam mengelola konflik, menghadapi tekanan, atau memberikan dukungan emosional kepada rekan kerja. Pertanyaan seperti, “Ceritakan situasi di mana Anda harus menenangkan rekan kerja yang sedang tertekan,” dapat mengungkap tingkat empati, kesabaran, dan regulasi emosi kandidat.
Salah satu metode populer untuk menilai EI adalah behavioral event interview (BEI), yang meminta kandidat menggambarkan situasi nyata di masa lalu, tindakan yang diambil, dan hasil yang diperoleh. Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku masa lalu merupakan prediktor yang baik untuk perilaku di masa depan. Dengan menggali narasi pengalaman, pewawancara dapat menilai dimensi EI seperti kesadaran diri (self-awareness), pengelolaan diri (self-regulation), motivasi, empati, dan keterampilan sosial (Boyatzis, 2009).
Di sisi lain, teknologi juga mulai berperan dalam mengukur EI selama wawancara. Perusahaan start-up HR tech kini mengembangkan wawancara berbasis video dengan analisis ekspresi wajah, nada suara, dan pilihan kata untuk mengidentifikasi indikator emosional kandidat (Pentland, 2010). Meskipun inovasi ini menjanjikan, para ahli menekankan bahwa hasilnya sebaiknya tidak digunakan secara tunggal, melainkan dikombinasikan dengan metode tradisional agar penilaian tetap valid dan etis.
Pentingnya penilaian EI dalam wawancara kerja semakin terasa di era kerja hibrida dan global. Kandidat yang memiliki EI tinggi cenderung lebih mampu membangun hubungan kerja yang harmonis meski berinteraksi secara virtual, mengelola stres akibat ketidakpastian, serta menjaga komunikasi yang inklusif lintas budaya. Hal ini menjadikan EI sebagai salah satu kompetensi inti yang berkontribusi langsung terhadap keberhasilan organisasi.
Namun, ada pula tantangan dalam penilaian EI. Salah satunya adalah kemungkinan social desirability bias, di mana kandidat memberikan jawaban yang terdengar ideal tetapi tidak mencerminkan perilaku sebenarnya. Untuk mengatasi hal ini, pewawancara perlu menggunakan teknik probing untuk menggali detail peristiwa, serta membandingkan konsistensi jawaban kandidat dengan referensi kerja dari atasan atau rekan sebelumnya.
Dengan demikian, penilaian kecerdasan emosional dalam wawancara kerja bukan sekadar tren, tetapi bagian dari strategi rekrutmen yang berorientasi pada keberhasilan jangka panjang. Perusahaan yang mengintegrasikan evaluasi EI dengan penilaian keterampilan teknis dan kognitif akan lebih siap mendapatkan talenta yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional sehingga menjadi sebuah kombinasi yang terbukti meningkatkan produktivitas, loyalitas, dan iklim kerja yang sehat. Percayakan asesmen karyawan Anda pada biro psikologi resmi Assessment Indonesia, pusat asesmen psikologi dengan layanan terbaik.
Referensi
Boyatzis, R. E. (2009). Competencies as a behavioral approach to emotional intelligence. Journal of Management Development, 28(9), 749–770. https://doi.org/10.1108/02621710910987647
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. Bantam Books.
Pentland, A. (2010). Honest signals: How they shape our world. MIT Press.