Memuat...
07 January 2026 10:33

Mengenal Connor Davidson Resilience Scale

Bagikan artikel

Ada masa dalam hidup ketika segalanya terasa runtuh, rencana gagal, kehilangan datang tanpa aba-aba, dan hati terasa lelah menanggung semuanya. Namun, anehnya, sebagian orang justru tumbuh dari reruntuhan itu. Mereka tetap tersenyum di tengah badai, bukan karena hidup mereka mudah, melainkan karena mereka memiliki sesuatu yang disebut "resilience" yang merupakan daya lenting psikologis untuk kembali berdiri setelah terjatuh.

Dalam bidang psikologi modern, resilience atau ketangguhan psikologis menjadi salah satu konsep penting untuk memahami bagaimana individu mampu bertahan dan beradaptasi terhadap tekanan hidup. Resilience tidak hanya berkaitan dengan kemampuan untuk “tetap kuat”, tetapi juga mencakup proses dinamis dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan dan tantangan.

Untuk mengukur aspek tersebut secara objektif, Kathryn M. Connor dan Jonathan R. T. Davidson mengembangkan Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC) pada tahun 2003. Alat ukur ini dirancang sebagai instrumen yang singkat namun komprehensif untuk menilai tingkat ketangguhan individu, baik pada populasi umum maupun pada pasien dengan gangguan kecemasan, depresi, dan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder / PTSD).

 

Latar Belakang Pengembangan

Pada saat CD-RISC dikembangkan, penelitian mengenai resilience telah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Namun, belum tersedia alat ukur yang memiliki validitas dan reliabilitas tinggi serta mudah diterapkan dalam praktik klinis. Connor dan Davidson, yang keduanya merupakan psikiater dari Duke University, merancang CD-RISC untuk mengisi kekosongan tersebut.

Penelitian awal mereka melibatkan beberapa kelompok responden, antara lain populasi umum, pasien rawat jalan di layanan primer, pasien psikiatri umum, serta peserta uji klinis dengan gangguan kecemasan dan PTSD. Tujuan penelitian ini adalah untuk memastikan bahwa CD-RISC mampu membedakan tingkat ketangguhan antar populasi dengan karakteristik yang berbeda.

 

Struktur dan Karakteristik Alat Ukur

CD-RISC terdiri dari 25 butir pernyataan yang dinilai menggunakan skala Likert 0–4, mulai dari “tidak benar sama sekali” hingga “benar hampir sepanjang waktu”. Semakin tinggi skor total yang diperoleh, semakin tinggi pula tingkat ketangguhan psikologis individu.

Melalui analisis faktor, Connor dan Davidson mengidentifikasi lima dimensi utama dalam CD-RISC, yaitu:

  1. Kompetensi pribadi dan ketekunan dalam menghadapi tantangan,

  2. Kepercayaan terhadap intuisi serta toleransi terhadap afeksi negatif,

  3. Penerimaan positif terhadap perubahan dan hubungan yang aman dengan orang lain,

  4. Kontrol diri dan spiritualitas,

  5. Keyakinan terhadap makna hidup dan tujuan pribadi.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa skala ini memiliki reliabilitas internal dan stabilitas temporal yang baik, serta validitas konvergen yang memadai dengan alat ukur stres dan ketahanan psikologis lainnya.

 

Temuan dan Aplikasi Klinis

Penelitian awal Connor dan Davidson menunjukkan bahwa individu dengan gangguan mental, seperti PTSD atau gangguan kecemasan, cenderung memiliki skor CD-RISC yang lebih rendah dibandingkan dengan populasi umum. Lebih lanjut, peningkatan skor CD-RISC selama proses pengobatan berkorelasi dengan perbaikan kondisi klinis secara keseluruhan.

Temuan ini menegaskan bahwa resilience bukanlah sifat yang sepenuhnya menetap, melainkan karakteristik psikologis yang dapat ditingkatkan melalui intervensi psikologis maupun farmakologis. Dengan demikian, CD-RISC tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai indikator keberhasilan terapi yang berfokus pada peningkatan daya lenting psikologis.

Selain di ranah klinis, CD-RISC telah banyak digunakan dalam penelitian mengenai stres kerja, kesehatan mental mahasiswa, serta studi lintas budaya yang menelaah perbedaan tingkat resilience antar kelompok demografis. Alat ini juga bermanfaat dalam konteks seleksi dan pelatihan profesi berisiko tinggi, seperti militer dan layanan darurat.

 

Makna Psikologis Resilience

Menurut model resiliency yang dikemukakan oleh Richardson (2002), resilience merupakan proses adaptif yang melibatkan keseimbangan biopsikospiritual individu dalam menghadapi stresor internal maupun eksternal. Hasil dari proses adaptasi tersebut dapat beragam, mulai dari pemulihan menuju keseimbangan semula, penurunan fungsi psikologis, hingga pertumbuhan pribadi yang lebih tinggi (post-traumatic growth).

Dengan demikian, pengukuran resilience melalui CD-RISC tidak hanya membantu memahami kapasitas seseorang dalam menghadapi kesulitan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai potensi perkembangan psikologis individu setelah melewati masa krisis.

 

Kesimpulan

Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC) merupakan alat ukur yang valid, reliabel, dan mudah diterapkan untuk menilai ketangguhan psikologis individu. Skala ini telah menjadi standar dalam penelitian dan praktik klinis karena kemampuannya membedakan tingkat resilience antar populasi serta sensitivitasnya terhadap perubahan setelah intervensi.

Lebih dari sekadar alat ukur, CD-RISC menegaskan pandangan dalam psikologi modern bahwa ketangguhan merupakan kapasitas yang dapat dipelajari, dikembangkan, dan diperkuat. Hal ini merupakan sebuah bukti bahwa manusia memiliki kemampuan alami untuk pulih dan beradaptasi terhadap tekanan hidup.

 

Assessment Indonesia adalah biro psikologi resmi yang menjadi pusat asesmen psikologi terpercaya serta vendor psikotes terbaik di Indonesia.

 

Referensi

Connor, K. M., & Davidson, J. R. T. (2003). Development of a New Resilience Scale: The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Depression and

Anxiety, 18(2), 76–82. https://doi.org/10.1002/da.10113

Riopel, L. (2019). How to Use the Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). PositivePsychology.com.

Bagikan