Penggunaan media sosial meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan kini menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak orang. Platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Twitter memudahkan komunikasi, berbagi informasi, serta membangun hubungan sosial. Media sosial juga membuka peluang untuk terhubung dengan orang lain, mendapatkan berita terbaru, hingga berpartisipasi dalam gerakan sosial. Kemudahan akses dan interaksi cepat yang ditawarkan membuat media sosial mengubah cara kita berkomunikasi, berinteraksi, bahkan memandang diri sendiri. Meski membawa banyak manfaat, penggunaan media sosial yang berlebihan menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan mental. Berbagai penelitian mengaitkan intensitas penggunaan media sosial dengan meningkatnya kecemasan, rasa kesepian, dan depresi, terutama pada remaja dan dewasa muda. Tekanan ini sering muncul akibat paparan standar kecantikan, kesuksesan, dan gaya hidup yang ditampilkan di media sosial. Semakin lama waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin besar pula potensi masalah mental. Dampaknya dipengaruhi oleh jenis konten yang dikonsumsi dan interaksi yang terjadi di platform tersebut. Meski demikian, media sosial juga dapat memberi manfaat positif seperti dukungan emosional, berbagi pengalaman, dan meningkatkan kesadaran isu tertentu. Sayangnya, dampak ini sulit dirasakan jika pengguna tidak selektif memilih konten. Selain itu, tujuan penggunaan media sosial berpengaruh besar terhadap dampaknya. Ada yang menggunakannya untuk mencari dukungan emosional atau informasi bermanfaat, sementara sebagian lainnya mencari pengakuan atau perhatian, yang justru dapat memicu rasa cemas dan ketidakpuasan diri. Cara seseorang menggunakan media sosial sangat menentukan bagaimana mereka merespons konten dan membandingkan diri dengan orang lain.
Maka dari itu, penting untuk memahami bahwa media sosial memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang, yaitu dampak positif dan negatif yang memengaruhi kesehatan mental. Dampak Positif Media Sosial dapat memperkuat hubungan sosial dan mengurangi kesepian dengan memberikan dukungan emosional, terutama bagi individu yang terisolasi Fardouly et al., 2015. Platform ini juga meningkatkan kesadaran isu kesehatan mental, mengurangi stigma, serta menjadi sarana berbagi pengalaman dan strategi coping Pittman & Reich, 2016. Selain itu, media sosial mempermudah akses informasi dan edukasi terkait kesehatan mental Aryana, 2021 dan dampak negatif media sosial Meski bermanfaat, media sosial juga memicu perbandingan sosial yang berdampak pada rendahnya harga diri dan ketidakpuasan diri akibat paparan standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis Fardouly et al., 2015. Selain itu, cyberbullying menjadi ancaman serius, yang dapat menimbulkan kecemasan, depresi, serta dampak jangka panjang seperti menurunnya rasa percaya diri Kowalski et al., 2014.
Untuk menjaga kesehatan mental di era digital, penting menerapkan batasan waktu penggunaan media sosial seperti membatasi penggunaan harian menjadi sekitar 30 menit per platform karena penelitian eksperimental menunjukkan ini dapat secara signifikan mengurangi tingkat kesepian dan depresi dalam beberapa minggu Hunt et al., 2018 ditambah praktik mindfulness menerapkan kesadaran penuh saat berinteraksi dengan konten digital terbukti efektif mengurangi kecanduan media sosial melalui pengendalian perhatian dan meredam efek FOMO (fear of missing out) Chang et al., 2023.
Beberapa tanda yang menunjukkan perlunya bantuan profesional kesehatan mental antara lain mengalami kesedihan berkepanjangan lebih dari dua minggu, gangguan tidur atau pola makan, munculnya ketakutan yang sulit dijelaskan, serangan panik disertai jantung berdebar dan kesulitan bernapas, penurunan energi, perasaan putus asa, perubahan perilaku yang drastis, serta fluktuasi suasana hati yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, merasa stres atau cemas terus-menerus, sering terlibat konflik, muncul keinginan untuk tidur tanpa bangun, hingga penggunaan alkohol atau obat-obatan sebagai pelarian juga merupakan sinyal penting untuk segera mencari pertolongan. Temukan layanan asesmen psikologi terbaik hanya di biro psikologi resmi Assessment Indonesia, mitra terpercaya untuk kebutuhan psikotes.
Referensi:
Suryodji, K. A., Ali, N., Sutanto, R. L., Christian, C., Putra, E. N. W., Faruqi, M., Simanjuntak, K. T., A’yun, I. Q., Setyawan, D. A., & Suskhan, R. F. (2024). Kesehatan mental di era digital: Tinjauan naratif dampak media sosial dan teknologi digital pada kesehatan mental dan upaya untuk mengatasinya. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 23(1), 1–10. https://doi.org/10.33221/jikes.v23i1.3115
Putri, T. N., & Miftahuddin, A. (2023). Pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental manusia di era digital. Universitas Pendidikan Indonesia.
Hunt, M. G., Marx, R., Lipson, C., & Young, J. (2018). No more FOMO: Limiting social media decreases loneliness and depression. Journal of Social and Clinical Psychology, 37(10), 751–768.
Chang, H., Meng, X., Li, Y., Liu, J., Yuan, W., Ni, J., & Li, C. (2023). The effect of mindfulness on social media addiction among Chinese college students: A serial mediation model. Frontiers in Psychiatry. (artikel terbuka secara daring via platform jurnal)