Perkembangan emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan anak yang sering kali kurang mendapatkan perhatian dibandingkan dengan perkembangan akademik. Padahal, emosi memiliki peran besar dalam menentukan bagaimana anak berpikir, bersikap, dan bertindak, termasuk dalam proses belajar di sekolah. Emosi anak tidak hanya berkaitan dengan perasaan senang atau sedih, tetapi juga mencakup kemampuan mengenali perasaan diri sendiri, mengelola emosi, memahami perasaan orang lain, serta membangun hubungan sosial yang sehat. Semua hal tersebut sangat memengaruhi kesiapan anak untuk belajar dan berinteraksi di lingkungan pendidikan.
Sejak usia dini, anak mulai belajar mengenali emosi melalui pengalaman sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah. Anak usia prasekolah, misalnya, masih sering menunjukkan emosi secara spontan dan belum mampu mengendalikannya dengan baik. Mereka dapat tertawa lepas saat merasa senang, menangis keras ketika kecewa, atau marah ketika keinginannya tidak terpenuhi. Hal ini merupakan bagian normal dari perkembangan emosi. Seiring bertambahnya usia, anak mulai belajar bahwa tidak semua emosi dapat diekspresikan secara bebas, dan mereka secara perlahan diajarkan cara yang lebih tepat untuk mengekspresikan perasaan.
Dalam konteks pendidikan, perkembangan emosi anak sangat memengaruhi cara mereka menerima pelajaran. Anak yang berada dalam kondisi emosi positif, seperti merasa aman, dihargai, dan diterima, cenderung lebih mudah berkonsentrasi dan memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi. Sebaliknya, anak yang sering merasa cemas, takut, atau tertekan akan mengalami kesulitan dalam menyerap informasi. Misalnya, anak yang takut dimarahi guru atau sering mendapatkan tekanan dari orang tua biasanya menjadi kurang percaya diri dan enggan bertanya ketika tidak memahami pelajaran.
Emosi juga berpengaruh besar terhadap kemampuan anak dalam mengingat dan memahami materi pelajaran. Penelitian dalam psikologi pendidikan menunjukkan bahwa suasana hati yang positif dapat meningkatkan daya ingat dan kemampuan berpikir anak. Ketika anak merasa senang dan nyaman, otak akan bekerja lebih optimal dalam memproses informasi baru. Sebaliknya, emosi negatif seperti stres dan kecemasan dapat menghambat kerja otak, sehingga anak menjadi sulit fokus dan mudah melupakan materi yang telah dipelajari.
Perkembangan emosi anak tidak dapat dipisahkan dari peran lingkungan keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama anak belajar mengenali dan mengelola emosi. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang, komunikasi terbuka, dan dukungan emosional cenderung memiliki kestabilan emosi yang lebih baik. Mereka terbiasa mengekspresikan perasaan dengan kata-kata dan belajar menyelesaikan masalah tanpa ledakan emosi. Kondisi ini sangat membantu anak ketika menghadapi tantangan belajar di sekolah.
Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis, sering mendapatkan kekerasan verbal maupun fisik, atau kurang mendapatkan perhatian emosional, berisiko mengalami masalah emosi. Anak-anak seperti ini sering membawa beban emosional ke sekolah, yang kemudian berdampak pada perilaku dan prestasi belajar. Mereka dapat menjadi mudah marah, menarik diri dari pergaulan, atau mengalami kesulitan mengikuti pelajaran karena pikiran mereka dipenuhi oleh masalah emosional.
Selain keluarga, peran guru sangat penting dalam mendukung perkembangan emosi anak di sekolah. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar materi akademik, tetapi juga sebagai figur yang memberikan rasa aman dan dukungan emosional bagi siswa. Sikap guru yang sabar, adil, dan menghargai perbedaan sangat membantu anak merasa nyaman di kelas. Ketika anak merasa diterima oleh gurunya, mereka akan lebih berani mencoba, bertanya, dan mengekspresikan pendapat tanpa takut disalahkan.
Hubungan yang positif antara guru dan siswa terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi akademik. Anak yang merasa diperhatikan secara emosional akan lebih percaya diri dan memiliki sikap positif terhadap sekolah. Sebaliknya, guru yang sering bersikap keras, meremehkan, atau tidak peka terhadap kondisi emosional siswa dapat memperburuk keadaan psikologis anak. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan anak kehilangan minat belajar bahkan mengalami masalah kesehatan mental.
Perkembangan emosi anak juga sangat berkaitan dengan kemampuan sosialnya. Anak yang mampu mengelola emosi dengan baik biasanya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan sekolah, menjalin pertemanan, dan bekerja sama dalam kegiatan kelompok. Kemampuan ini sangat penting dalam proses belajar modern yang banyak menekankan kerja sama dan komunikasi. Anak yang sering mengalami ledakan emosi atau kesulitan mengendalikan perasaan cenderung mengalami masalah dalam hubungan sosial, yang pada akhirnya dapat mengganggu proses belajar.
Pada usia remaja awal, perkembangan emosi menjadi semakin kompleks. Anak mulai mengalami perubahan fisik dan hormonal yang memengaruhi kestabilan emosinya. Remaja sering kali mengalami emosi yang naik turun, mudah tersinggung, dan sensitif terhadap penilaian orang lain. Dalam kondisi ini, dukungan emosional dari guru dan orang tua menjadi semakin penting. Jika emosi remaja tidak dipahami dengan baik, mereka dapat mengalami stres akademik, kecemasan, bahkan depresi yang berdampak langsung pada prestasi belajar.
Oleh karena itu, pendidikan tidak seharusnya hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga pada pengembangan emosi anak. Sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar yang ramah emosi, di mana anak merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri. Program pendidikan karakter, pembelajaran sosial-emosional, serta layanan konseling sekolah merupakan beberapa upaya yang dapat membantu anak mengembangkan kecerdasan emosionalnya.
Kecerdasan emosional yang baik akan membantu anak mengenali perasaan, mengendalikan emosi negatif, serta membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Anak yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi cenderung lebih mampu menghadapi tekanan belajar, tidak mudah menyerah, dan memiliki sikap positif terhadap tantangan akademik. Dengan demikian, perkembangan emosi yang sehat merupakan fondasi penting bagi keberhasilan belajar anak, baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa perkembangan emosi anak memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap proses belajar. Emosi yang stabil dan positif akan mendukung konsentrasi, motivasi, dan prestasi akademik, sementara masalah emosi dapat menjadi penghambat utama dalam proses belajar. Oleh karena itu, perhatian terhadap perkembangan emosi anak perlu menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua, guru, dan lingkungan sekolah agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara akademik maupun psikologis.
Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.
Referensi
Santrock, J. W. (2011). Educational Psychology. New York: McGraw-Hill.
Goleman, D. (2006). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.
Hurlock, E. B. (2013). Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Slavin, R. E. (2018). Educational Psychology: Theory and Practice. Boston: Pearson Education.
Denham, S. A. (2006). Social-emotional competence as support for school readiness. Early Education and Development, 17(1), 57–89.