Memuat...
16 February 2026 14:26

Kesulitan Mengelola Stres Sekolah pada Remaja dan Implikasinya bagi Prestasi Akademik

Bagikan artikel

Stres sekolah merupakan fenomena yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan remaja modern. Tuntutan akademik yang tinggi, tekanan untuk berprestasi, dinamika relasi sosial di sekolah, ekspektasi orang tua, serta kekhawatiran mengenai masa depan sering kali membentuk akumulasi tekanan psikologis yang tidak sederhana. Dalam praktik klinis, banyak remaja datang bukan karena “tidak mampu belajar”, melainkan karena kesulitan mengelola tekanan yang menyertai proses belajar tersebut.

Secara psikologis, stres bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif. Dalam kadar tertentu, stres bersifat adaptif dan mendorong individu untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan. Namun, ketika stres menjadi kronis, intens, dan tidak terkelola, maka ia berubah menjadi beban psikologis yang mengganggu fungsi kognitif, emosi, dan perilaku. Pada remaja, dampak ini sangat signifikan karena terjadi pada fase perkembangan otak yang masih dalam proses pematangan, khususnya pada area prefrontal cortex yang berperan dalam regulasi emosi, pengambilan keputusan, dan kontrol diri.

Dalam konteks sekolah, stres dapat muncul dari berbagai sumber. Beban tugas yang menumpuk, ujian yang berdekatan, standar nilai yang tinggi, persaingan dengan teman sebaya, hingga tekanan sosial untuk “tidak gagal” sering kali menjadi pemicu utama. Sebagian remaja mampu mengelola tekanan ini dengan strategi koping yang adaptif, seperti manajemen waktu yang baik atau mencari dukungan sosial. Namun, tidak sedikit yang mengalami kesulitan dalam mengatur respons emosionalnya.

Kesulitan mengelola stres biasanya terlihat dalam beberapa pola. Ada remaja yang menunjukkan gejala kecemasan berlebihan menjelang ujian, mengalami gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, bahkan keluhan fisik seperti sakit kepala atau gangguan pencernaan. Ada pula yang merespons dengan perilaku penghindaran, seperti menunda tugas, bolos sekolah, atau menarik diri dari aktivitas akademik. Dalam jangka panjang, pola ini dapat membentuk lingkaran masalah: stres menurunkan performa akademik, penurunan performa meningkatkan stres, dan siklus tersebut terus berulang.

Dari sudut pandang kognitif, stres yang tinggi mengganggu kapasitas working memory dan perhatian. Remaja mungkin sebenarnya memahami materi pelajaran, tetapi dalam situasi evaluasi formal seperti ujian, kecemasan membuat akses terhadap informasi menjadi terhambat. Hal ini sering disalahartikan sebagai kurangnya kemampuan intelektual, padahal akar permasalahannya terletak pada regulasi emosi dan manajemen stres.

Selain faktor individual, lingkungan juga memiliki peran besar. Budaya sekolah yang sangat kompetitif tanpa dukungan emosional yang memadai dapat memperburuk tekanan psikologis. Ekspektasi orang tua yang tinggi, terutama jika tidak diimbangi dengan validasi emosional, dapat membuat remaja merasa bahwa nilai akademik merupakan satu-satunya ukuran keberhargaan diri. Dalam kondisi seperti ini, kegagalan akademik kecil pun dapat dirasakan sebagai ancaman besar terhadap identitas diri.

Implikasi dari kesulitan mengelola stres tidak hanya terbatas pada prestasi akademik. Dalam praktik asesmen psikologis, sering ditemukan bahwa stres sekolah yang kronis berkorelasi dengan penurunan motivasi intrinsik, kelelahan emosional (academic burnout), serta munculnya gejala depresi ringan hingga sedang. Ketika remaja mulai kehilangan makna dalam proses belajar, maka keterlibatan akademiknya pun menurun secara signifikan.

Assessment psikologis memiliki peran penting dalam memahami dinamika ini secara komprehensif. Melalui wawancara klinis, psikolog menggali persepsi remaja terhadap tuntutan sekolah, cara mereka memaknai kegagalan, serta strategi koping yang selama ini digunakan. Observasi dan penggunaan alat ukur stres akademik membantu memetakan tingkat tekanan yang dialami serta dampaknya terhadap fungsi kognitif dan emosional.

Assessment juga membantu membedakan antara kesulitan belajar murni dan gangguan performa akibat stres. Tidak jarang remaja dengan potensi intelektual yang baik menunjukkan penurunan nilai karena kecemasan performa yang tinggi. Dengan pemahaman ini, intervensi dapat diarahkan pada penguatan regulasi emosi, bukan semata-mata peningkatan strategi belajar.

Dalam intervensi, pendekatan yang efektif biasanya mencakup pelatihan manajemen stres, pengembangan keterampilan regulasi emosi, serta restrukturisasi kognitif terhadap keyakinan yang tidak adaptif, seperti “Saya harus selalu sempurna” atau “Nilai buruk berarti saya gagal sebagai pribadi.” Remaja juga perlu dibantu untuk membangun self-compassion, yakni kemampuan menerima keterbatasan diri tanpa kehilangan motivasi untuk berkembang.

Peran orang tua sangat krusial dalam proses ini. Dukungan emosional, komunikasi terbuka, serta penekanan pada proses belajar daripada hasil akhir dapat membantu menurunkan tekanan psikologis yang berlebihan. Sekolah pun memiliki tanggung jawab untuk menciptakan iklim belajar yang suportif dan tidak semata-mata berorientasi pada kompetisi.

Pada akhirnya, kesulitan mengelola stres sekolah bukanlah tanda kelemahan karakter. Ia merupakan sinyal bahwa remaja membutuhkan keterampilan regulasi yang lebih matang serta lingkungan yang lebih suportif. Dengan assessment yang tepat dan intervensi yang komprehensif, stres dapat diubah dari ancaman menjadi tantangan yang mendorong pertumbuhan.

Prestasi akademik yang sehat bukanlah hasil dari tekanan ekstrem, melainkan dari keseimbangan antara tuntutan dan dukungan psikologis. Ketika remaja mampu mengelola stres secara adaptif, fungsi kognitifnya bekerja lebih optimal, motivasinya meningkat, dan proses belajar menjadi lebih bermakna. Di sinilah peran pendampingan psikologis menjadi penting: membantu remaja tidak hanya mencapai prestasi, tetapi juga menjaga kesejahteraan mentalnya dalam proses tersebut.

 

Biro psikologi Smile Consulting Indonesia menyediakan jasa psikotes untuk berbagai kebutuhan asesmen psikologi, baik untuk individu maupun perusahaan. Layanan kami dirancang untuk memberikan hasil yang akurat dan terpercaya.

 

Referensi

Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer.

Santrock, J. W. (2018). Adolescence. New York: McGraw-Hill Education.

Compas, B. E., et al. (2017). Coping and emotion regulation in adolescence. Psychological Bulletin, 143(9), 939–991.

Sarwono, S. W. (2012). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers.

Desmita. (2014). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Putri, R. M., & Nurhidayah, S. (2020). Stres akademik dan prestasi belajar pada remaja. Jurnal Psikologi Pendidikan Indonesia, 9(2), 101–112.

Bagikan